APA yang sedang dikerjakan Baskoro? Di atas panggung, pemuda Rembang itu seperti berdansa. Kepala, tangan, dan kakinya bergerak. Namun itu bukan gerakan dansa. Sambil bergerak, dia berbicara atau lebih tepatnya mengoceh. Potongan dialog dari Mesin Hamlet karya Heiner Muller yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia itu mengalir. "Itu adalah mayat seorang yang mulia. Karya politiknya budaya korupsi. Dia tadinya seorang lelaki yang mengambil semua hanya dari semuanya," ujar dia.
Sebentar kemudian, Baskoro meloncat ke teks puisi Afrizal Malna. Dia terjemahkan "Masyarakat Rosa". "Ayahku bernama koruptor pula, ibuku bernama koruptor pula, seperti para kekasihku pula bernama koruptor."
Ya, Baskoro sepertinya muak dengan korupsi yang sudah membudaya di negeri ini. Dia ingin menjauhkan diri dari budaya korupsi, tetapi tak tahu harus berbuat apa. Maka, mungkin "pembunuhan" adalah jawabnya.
Makin Sempurna
Pemecahan itu dia tampilkan lewat visualisasi hasil gabungan bermacam gambar. Salah satunya lewat tulisan "Get A Corruptor and Kill Her"yang merupakan pelesetan dari judul lagu Zatpp "Get A Star and Kill Her". Tulisan itu berkali-kali muncul dalam rangkaian visual yang dia buat.
Baskoro bergerak, mengoceh, dan sesekali berdendang di antara potongan-potongan peristiwa. Pria yang lama mukim di Yogya itu juga menggabungkan sebuah karya film eksperimen Andy Warhol dengan gambar seribu tangan Bodhisattva.
Penampilan dia makin sempurna dengan iringan musik yang dibuat dari potongan-potongan aneka suara. Dia memperdengarkan lagu-lagu Jim Morrison, The Doors, dan Fat Boy Slim. Di tengah itu, dia mencuplik alunan harmonis karya Rahayu Supanggah.
Kontan, panggung sederhana di Padepokan Seni Murni Asih (Pasma), Kudus, Jumat (4/1), menjadi riuh. Baskoro memberi tajuk pertunjukan malam itu "Perang Suci Lawan Koruptor, Now!".
Selain Baskoro, tampil pula Kustam Ekajalu dari Jepara. Malam itu, dalam acara Malem Setu Paingan II, Pasma memang menampilkan khusus performance art, seni yang belum banyak digauli seniman, terutama di Kudus. Baskoro memang memesona. Namun, pertanyaannya, bisakah seni membasmi korupsi? (53)